Kebangkitan Kristus: Menjadi Sumber Harapan Semua Orang

Ketua STPKat sedang membagikan makanan kepada masyarakat sekitar STPKat pada 15 April 2020

Kasus COVID 19 di Indonesia sejak awal mulai menyebar hingga pertengahan April 2020 terus meningkat. Hampir setiap daerah di Indonesia terpaksa melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sistem PSBB berbeda dari Lockdown meski sama-sama membatasi interaksi sosial masyarakat, hanya saja PSBB lebih ketat dalam pelaksanaan.

Jakarta sudah resmi menjalankan PSBB. Selain Jakarta beberapa daerah yang sedang mempertimbangkan pengajuan PSBB adalah: Bandung dan Sidoarjo. PSBB merupakan langkah untuk memutus rantai penyebaran COVID 19, meski demikian langkah ini bukan tidak memiliki dampak negatif kepada masyarakat. Banyak masyarakat sejak dimulainya Lockdown hingga PSBB mengalami kesulitan menjalankan usahanya.

Meski di Semarang hingga saat ini belum menerapkan PSBB pemerintah sudah melakuan himbauan kepada masyarakat luas untuk melakukan pembatasan sosial. Seluruh Sekolah dan Perguruan Tinggi di Semarang sedang melakukan pembatasan interaksi sosial, sehingga banyak yang kemudian menjalankan pembelajaran online. Beberapa perusahaan juga sempat meliburkan pegawainya beberapa hari hingga mempercepat waktu pulang karyawan supaya kesehatan mereka terjaga.

Ketua STPKAt sedang membagikan makanan kepada Pengemudi Ojek Online pada 15 April 2020

Masyarakat yang bukan pegawai di perusahaan, lembaga pendidikan, atau instansi pemerintahan, mereka yang menggantungkan hidupnya sebagai pedagang, ojol, dan jasa transportasi lainya mengalami dampak dari pembatasan interaksi sosial di Kota Semarang. Kebanyakan dari mereka kesulitan memperoleh pendapatan setiap harinya.

Pemprov Jawa Tengah melaksanakan gerakan ‘1000 Nasi Bungkus untuk Ojol’ sebagai tanggapan atas sulitnya Ojol mendapat penghasilan. Minimal dengan mengadakan kegiatan ini Pemerintah dapat sedikit membantu kesulitan yang dialami Ojol di Semarang dalam Pandemi COVID19.

Menyadari bahwa dampak dari COVID19 sangat terasa bagi masyarakat kecil, STPKat tergerak untuk turut menjadi harapan bagi masyarakat kecil yang membutuhkan. Rabu 15 April lalu STPKat bekerja sama dengan Yayasan Brayat Minulyo melaksanakan aksi berbagi untuk lingkungan. Kegiatan ini adalah usaha untuk membantu masyarakat di sekitar kampus STPKat yang berprofesi sebagai pedagang, tukang becak, Ojol, dan semua yang merasa membutuhkan supaya dapat mendapat makan yang cukup dalam sehari.

Sr. Andarweni Astuti, OSF. bersama dengan rekan-rekan IKRAR bersiap membagi nasi bungkus

Kegiatan ini akan dilaksanakan kembali rencananya pada hari Selasa 21 April mendatang dan kali ini STPKat menjalin kerja sama dengan IKRAR atau Ikatan Biarawan dan Biarawati Rayon Semarang. Saat ini pembatasan interaksi sosial memang menjadi cara untuk melawan COVID19, namun berbagi kebaikan juga dapat memperkuat usaha melawan COVID19 dalam situasi masyarakat yang sedang membutuhkan.

Kristus telah wafat namun Ia tidak meninggalkan kita. Kristus telah Bangkit dan kini hadir di tengah-tengah kita membawa harapan. Maka dalam semangat kebangkitan Tuhan kita STPKat turut berusaha menjadi sumber harapan di tengah masyarakat.