Semarang – Tim mahasiswa Semester 2 dari Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) St. Fransiskus Asisi berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih kemenangan dramatis dalam ajang Lomba Cerdas Cermat Katolik (CCK) tingkat nasional. Kompetisi ini digelar secara daring pada Jumat, 27 Juni 2025, dan mempertemukan berbagai tim dari institusi pendidikan serta komunitas Katolik se-Indonesia dalam atmosfer yang kompetitif dan penuh semangat.
Kompetisi ini berlangsung melalui platform Zoom dan menggunakan aplikasi Quiz sebagai media penyajian soal. Para peserta ditantang menjawab cepat dan tepat berbagai materi penting seperti Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik, dokumen resmi Gereja termasuk ensiklik dan hasil Konsili, serta sejarah Gereja Katolik, khususnya yang berkaitan dengan tema Tahun Yubileum 2025: Peziarah Harapan. Soal-soal digital yang menuntut ketepatan, kecepatan, serta kestabilan koneksi internet menjadi tantangan tersendiri bagi peserta.
Ketiga anggota tim, yakni Abraham Ansiel Candra Febrian, Stepanus Perdi, dan Valentino Endiyanto, mengaku tidak sempat melakukan latihan intensif karena padatnya aktivitas akademik. Namun, mereka tetap percaya diri karena merasa memiliki bekal iman Katolik yang telah diperoleh sejak bangku sekolah hingga kuliah di STPKat Semarang. Kepercayaan diri inilah yang menjadi fondasi saat menghadapi soal-soal yang cukup kompleks dan beragam.

Aspek teknis juga turut menguji ketangguhan peserta. Seluruh sesi lomba berlangsung secara daring dan real-time, menuntut para peserta untuk tetap tenang dan fokus di tengah tekanan waktu. Dalam kondisi seperti ini, kerja sama tim menjadi sangat menentukan. Tim mahasiswa STPKat menunjukkan kekompakan yang telah terbangun melalui interaksi harian di perkuliahan. Tanpa strategi rumit, mereka mengandalkan kepercayaan satu sama lain dan menjawab dengan penuh koordinasi.

Momen paling menegangkan terjadi di akhir perlombaan ketika tim STPKat sempat tertinggal. Namun, mereka berhasil menjawab soal terakhir dengan benar, sementara tim lawan keliru. Poin mereka pun melesat naik dan membawa kemenangan. “Kami benar-benar tidak menyangka bisa menang. Rasanya seperti mukjizat. Di saat saya hampir kehilangan harapan, Tuhan justru menunjukkan kuasa-Nya,” ungkap Endiyanto penuh haru.
Lebih dari sekadar kemenangan akademik, pengalaman ini menjadi ruang pembelajaran iman dan persaudaraan yang tak terlupakan bagi ketiganya. Mereka merasakan bahwa lomba ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga bentuk nyata pertumbuhan spiritual sebagai orang muda Katolik. “Saya berharap lomba seperti ini terus dilaksanakan. Bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tapi juga sarana pertumbuhan iman kami,” pungkas mereka dengan semangat.
Reporter & Penulis: Dominika Rosalvari/UKM Jurnalistik


