Semarang, 25 Oktober 2025 — Mahasiswa semester lima Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Asisi Semarang melaksanakan kuliah lapangan dalam rangka mata kuliah Moderasi dan Literasi Beragama di Sanggar Sumarah, Banyumanik, Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini dipandu oleh dua narasumber, Bapak Yoni Handiyono selaku Ketua Paguyuban Sumarah dan Bapak R. Antony Dedy Septiadi sebagai Sekretaris Paguyuban.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap keberagaman keyakinan di Indonesia, khususnya ajaran kepercayaan lokal Paguyuban Sumarah, yang berpusat pada keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui pembelajaran langsung di sanggar, mahasiswa diajak mengenal nilai-nilai spiritualitas Jawa yang menekankan kesadaran batin, ketulusan, dan kebijaksanaan sebagai jalan menuju ketenteraman lahir dan batin.
Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan bahwa inti spiritualitas Sumarah terletak pada olah batin dan budi luhur untuk menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan. Ajaran ini berakar pada pengalaman spiritual Bapak Soekino Hartono di Yogyakarta pada 8 September 1935, ketika beliau menerima tuntunan ilahi yang kemudian dikenal sebagai Sumarah, yakni ajaran untuk berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Melalui laku Sujud Sumarah, seseorang diajak untuk membuka hati, berdiam dalam keheningan, dan menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya.
Paguyuban Sumarah menanamkan nilai-nilai moral dan sosial seperti kejujuran, persaudaraan, penghormatan terhadap sesama, serta penolakan terhadap segala bentuk kebencian dan kekerasan. Dalam ajaran ini, kesempurnaan iman tidak diukur dari ritual lahiriah, tetapi dari kejernihan hati, kasih terhadap sesama, dan kesadaran penuh akan kasih Tuhan. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang diajarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu menghargai perbedaan tanpa kehilangan keyakinan pribadi.
Selain memperdalam aspek spiritual, kunjungan ini juga memperlihatkan keterkaitan erat antara iman dan budaya lokal. Paguyuban Sumarah berakar pada nilai-nilai luhur budaya Jawa seperti budi pekerti, tepa selira, rila, narima ing pandum, dan eling lan waspada. Bahasa Jawa digunakan dalam doa dan meditasi karena diyakini memiliki kekuatan rasa dan kelembutan makna yang memperdalam pengalaman rohani. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi wadah yang memperkaya iman dan kehidupan spiritual.
Melalui kunjungan ke Sanggar Sumarah, mahasiswa STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang diajak untuk semakin menghargai keberagaman keyakinan di Indonesia. Mereka belajar bahwa setiap jalan spiritual memiliki nilai kebenaran dan tujuan yang sama, yaitu mengarahkan manusia kepada Tuhan serta menumbuhkan kedamaian dan kemanusiaan sejati. Kegiatan ini diharapkan menjadi pengalaman formasi iman yang berharga bagi mahasiswa STPKat untuk semakin terbuka terhadap keberagaman, memupuk toleransi, serta menghidupi semangat moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Marcelinus Riang Tobi
Penulis
Robertus Panca Aditya, S.Kom
Penyunting
Kontak Media:
Humas STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang
Jl. Ronggowarsito No. 8, Semarang
Email: humas@stpkat-sfa.ac.id | Telepon: 089673366980


