Semarang, 7 Oktober 2025 – Mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Asisi Semarang melaksanakan kegiatan kunjungan dan pembelajaran lintas agama di Pura Agung Giri Natha, pada Selasa, 7 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Moderasi dan Literasi Beragama, yang bertujuan memberikan pengalaman langsung dalam memahami dan menghayati nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Kegiatan kunjungan ini disambut hangat oleh pihak Pura. Kehadiran para mahasiswa diterima langsung oleh Bapak Gusti Ketut Susila, selaku pengurus Pura Agung Giri Natha, dan Bapak Putu Adi Sutrisna, S.H., yang menjadi narasumber utama dalam sesi pembelajaran. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Putu Adi Sutrisna memaparkan inti ajaran Hindu yang berlandaskan pada filosofi Tri Hita Karana, yaitu konsep keseimbangan hidup melalui tiga harmoni utama: Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan antar sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan alam lingkungan).
Melalui penjelasan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa nilai-nilai universal dalam ajaran Hindu, seperti kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan, memiliki kesesuaian erat dengan prinsip moderasi beragama, yakni sikap yang menjauhi ekstremitas, menghargai martabat manusia, dan mengakui keberagaman sebagai anugerah.

Salah satu bagian menarik dari sesi pembelajaran ini adalah pelurusan pandangan masyarakat tentang makna sesajen (banten). Narasumber menjelaskan bahwa sesajen bukanlah bentuk penyembahan terhadap benda atau alam, melainkan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas berkat dan karunia-Nya yang termanifestasi dalam alam semesta. Penjelasan ini membantu mahasiswa melihat bahwa praktik spiritual Hindu berpusat pada pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan pada pemujaan terhadap objek duniawi.
Selain membahas aspek spiritual, ajaran Palemahan dalam Hindu juga menekankan pentingnya pelestarian alam sebagai wujud tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan. Kesadaran moral ini diperkuat dengan nilai Dharma Wighna, yaitu rasa takut untuk berbuat dosa atau melakukan tindakan yang merusak tatanan moral dan sosial. Nilai-nilai ini sejalan dengan panggilan iman Kristiani untuk menjaga ciptaan dan membangun perdamaian sejati.
Pura Agung Giri Natha juga dikenal sebagai pusat wisata rohani dan simbol persaudaraan lintas iman. Dalam paparannya, narasumber menegaskan bahwa umat beragama lain dipandang sebagai saudara, dan hal tersebut tampak nyata dalam keterbukaan pihak Pura untuk mendukung kegiatan keagamaan lain, termasuk perayaan Natal, sebagai wujud nyata toleransi dan harmoni antarumat beragama.
Selama kegiatan, para mahasiswa juga melakukan refleksi dan dialog terkait hubungan antara nilai-nilai Tri Hita Karana dan Teori Psiko-Spiritual Abraham Maslow, yang menempatkan spiritualitas sebagai puncak kebutuhan manusia (self-transcendence). Dari refleksi tersebut, mahasiswa menyadari bahwa ketika kebutuhan spiritual seseorang terpenuhi, ia menjadi lebih terbuka, empatik, dan toleran terhadap perbedaan.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang memperoleh pemahaman yang mendalam bahwa keragaman tradisi keagamaan adalah kekayaan, bukan hambatan. Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan akademis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membangun persaudaraan lintas iman.
Dengan semangat kasih dan dialog, mahasiswa STPKat berkomitmen untuk menjadi duta perdamaian dan moderasi beragama, yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal Hindu dengan semangat kasih Kristiani, demi terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.
Om Santi, Santi, Santi, Om.
Berkah Dalem.
Dantra Sihaloho
Penulis
Marcelinus Riang Tobi
Editor


