Semarang, 22 September 2025. Mahasiswa semester 5 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Asisi Semarang melaksanakan kuliah lapangan dalam rangka mata kuliah Moderasi dan Literasi Beragama di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 22 September 2025 ini diisi oleh narasumber Dr. H. M. Saekan Muchith, S.Ag., M.Pd., salah satu dosen dan pakar dalam bidang pendidikan Islam dan moderasi beragama.
Dalam kuliah tersebut, mahasiswa STPKat diajak untuk memahami konsep Islam Nusantara yang berpijak pada prinsip Islam Rahmatan lil ‘Alamin, agama yang membawa damai bagi seluruh ciptaan tanpa membeda-bedakan ras, suku, atau latar budaya. Dr. Saekan Muchith menjelaskan bahwa ajaran Islam Nusantara menegaskan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan yang sangat relevan diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk.
Mahasiswa STPKat juga belajar bahwa moderasi beragama mencakup beberapa indikator penting, antara lain: tidak bersikap berlebihan atau ekstrem, menghargai batas-batas kemanusiaan dan kesepakatan bersama, memahami perbedaan antara pokok ajaran dan tafsir, memiliki keluasan pengetahuan, serta berpendirian teguh dalam beragama. Prinsip-prinsip ini menjadi landasan penting bagi kehidupan berbangsa yang damai dan saling menghargai di tengah perbedaan keyakinan.

Dalam sesi diskusi, narasumber menyoroti tantangan yang masih dihadapi dalam mewujudkan moderasi beragama, seperti munculnya paham radikal, fanatisme sempit, serta kesalahpahaman tafsir terhadap ajaran agama. Ia menekankan pentingnya pendidikan lintas iman dan penguatan literasi keagamaan agar setiap individu memiliki pemahaman yang benar tentang martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Selain itu, mahasiswa juga diajak merefleksikan hubungan antara moderasi beragama dengan teori Psiko-Spiritual Abraham Maslow. Menurut teori tersebut, spiritualitas merupakan kebutuhan psikologis tertinggi yang berkaitan dengan pencarian makna hidup, kesadaran diri, rasa syukur, dan empati terhadap sesama. Kebutuhan spiritual yang terpenuhi akan membentuk pribadi yang matang secara emosional dan terbuka terhadap perbedaan, sedangkan kekosongan spiritual dapat menimbulkan krisis identitas dan kecenderungan ekstrem dalam beragama.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang memperoleh pemahaman mendalam tentang pentingnya dialog antaragama dan praktik moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata implementasi visi STPKat dalam membentuk calon katekis dan pelayan pastoral yang berwawasan luas, terbuka, serta mampu menjembatani perbedaan dengan semangat kasih dan persaudaraan sejati.
Firman Arif
Penulis
Marcelinus Riang Tobi
Editor
Kontak Media:
Humas STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang
Jl. Ronggowarsito No. 8, Semarang
Email: humas@stpkat-sfa.ac.id | Telepon: 089673366980


