Boro, Yogyakarta, 1 November 2025 – Mahasiswa STPKat St. Fransiskus Asisi Semarang yang sedang melaksanakan kegiatan KKN Paroki di Boro, Yogyakarta belajar hal baru tentang Seni Slaka. Seni Slaka merupakan seni yang dilaksanakan turun-temurun di Paroki St. Theresia Lisieux Boro. Slaka berasal dari kata Sholawatan Katolik. Slaka berupa nyanyian yang dituangkan dalam bentuk puisi yang berisi ayat-ayat Kitab Suci. Slaka terbagi menjadi dua jenis, Slaka Perjanjian Lama (ayat ayat kitab Perjanjian Lama) dan Perjanjian Baru (ayat-ayat keempat Injil). Bahasa yang digunakan dalam Slaka ini merupakan bahasa jawa krama (bahasa jawa halus yang dipakai untuk menghormati orang yang lebih tua) dan ada juga yang mengunakan bahasa ngoko (bahasa yang sering digunakan sehari-hari untuk teman sebaya). Slaka biasanya dilaksanakan bersama dengan Umat setiap malam Jumat Kliwon, tepatnya di makam Romo Frentaller. Kesenian ini adalah warisan dari Katekis Pertama bernama Barnabas Sarikrama.

Melalui media Slaka, umat di Paroki St. Theresia Lisieux Boro dapat menghayati iman Katolik secara utuh sembari merawat budaya serta warisan leluhur. Hal ini dapat juga membangun kerekatan Umat Katolik yang diwujudkan dari pertemuan-pertemuan ketika latihan bersama, maupun bermusik dalam seni Slaka. Disini Kami (Mahasiswa STPKat St. Fransiskus Asisi Semarang) akhirnya juga belajar hal baru yang tadinya kami tidak ketahui. Menjadi pengalaman yang sangat berharga ketika kami turut mencoba mempelajari Seni Slaka ini. Selain itu sebagai Calon Katekis, kami juga akhirnya dapat mengambil nilai-nilai budaya yang dapat dimodifikasi dalam menghayati iman Katolik. Semoga budaya dan iman Katolik terus tumbuh berkembang di Paroki St. Theresia Lisieux Boro, secara khusus di lingkungan Kisik Tlagan.
Gabriel Aldo Nagama Panggabean
Penulis
Robertus Panca Aditya, S.Kom
Editor
Kontak Media:
Humas STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang
Jl. Ronggowarsito No. 8, Semarang
Email: humas@stpkat-sfa.ac.id | Telepon: 089673366980


