Selasa, 18 November 2025 – Delegasi Gereja Katolik Thailand yang dipimpin Uskup Agung Bangkok, Mgr. Francis Xavier Vira Arpondratana, mengunjungi Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Assisi Semarang pada Selasa, 18/11/2025.
Rombongan berjumlah delapan orang yang terdiri dari para imam dan awam yang juga menjadi dosen di berbagai institusi pendidikan tinggi Katolik di Thailand. Kehadiran para pemimpin akademik dan formator pastoral ini menunjukkan keseriusan Gereja Thailand dalam mempelajari sistem pendidikan katekis di Indonesia.
Rombongan tiba di STPKat Semarang sekitar pukul 13.00 WIB setelah sebelumnya melakukan audiensi dengan Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Rombongan disambut secara meriah di halaman kampus STPKat dengan tarian khas Semarang yang dibawakan oleh para mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Tari.
Setelah penyambutan, kegiatan dilanjutkan dengan wawan hati bersama para dosen STPKat. Dalam dialog yang berlangsung hangat, Uskup Agung dan para imam berdinamika bersama para dosen STPKat mengenai kehidupan menggereja, formasi pastoral, serta peran pendidikan dalam membentuk tenaga pelayan Gereja. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi pengalaman antara Gereja Indonesia dan Gereja Thailand.
Mgr. Arpondratana menyampaikan bahwa sebagai seorang katekis dan gembala, Bapak Uskup ingin turut mendorong pemberdayaan umat awam agar semakin berani menjadi misioner, bangga sebagai Katolik, dan bertumbuh dalam pemahaman Kitab Suci. Ia menekankan pentingnya kerasulan biblis dan pendalaman iman yang terus dibangun dalam kehidupan umat, khususnya bagi kaum muda
Ketua STPKat, Dr. Irene Hartutik, M.Pd., menyampaikan penghargaan khusus kepada Mgr. Francis Xavier dan para anggota delegasi atas kunjungan mereka serta komitmen bersama dalam memperkuat kerja sama antarnegara di bidang pendidikan katekis dan pastoral.

Berbagi informasi seputar formasi Katekis
Kunjungan ini merupakan bagian dari kunjungan pastoral yang dirancang untuk memperluas wawasan para pemimpin Gereja Thailand mengenai model pembinaan katekis di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, pihak STPKat berbagi tentang formasi katekis yang menggabungkan aspek teologis, pedagogis, dan pastoral serta ditopang spiritualitas Fransiskan bagi konteks Gereja Asia yang multikultural. Dengan memahami proses pendidikan katekis secara menyeluruh, delegasi diharapkan memperoleh inspirasi untuk pengembangan program serupa di negara mereka.
Dalam sesi ini jua, para tamu mendapat gambaran menyeluruh tentang sejarah panjang STPKat yang berakar pada PIKAT (Pusat Informasi Katolik) sejak tahun 1972. Kemudian, PIKAT, sebagai pusat pelatihan pastoral dan katekese yang digagas para suster OSF, berkembang hingga akhirnya bertransformasi menjadi STPKat Santo Fransiskus Assisi pada tahun 2007. Latar sejarah ini menjadi dasar penting untuk memahami identitas dan arah pembinaan katekis yang dijalankan hingga saat ini.
Selain itu, STPKat juga menyampaikan data mahasiswa yang berasal dari berbagai keuskupan dan daerah di Indonesia, serta informasi mengenai karya para alumni yang kini melayani sebagai katekis dan guru agama Katolik di sekolah. Informasi-informasi tersebut diharapkan memberi pemahaman komprehensif tentang kontribusi STPKat bagi Gereja dan masyarakat.
Perhatian bagi kaum muda
Di sela rangkaian kegiatan, perwakilan dari UKM Jurnalistik STPKat yaitu Dimas dan Endi, mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan wawancara singkat dengan Mgr. Mgr. Francis Xavier. Dalam wawancara tersebut, Bapak Uskup menjelaskan bagaimana kaum muda dapat memperkuat iman mereka melalui kegiatan Gereja seperti World Youth Day, Asian Youth Day, serta aktivitas kepemudaan di tingkat keuskupan.
Bapak Uskup juga menegaskan pentingnya kehadiran komisi kepemudaan dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana evangelisasi bagi kaum muda yang tidak selalu dapat hadir dalam kegiatan gerejawi. Selain itu, pendekatan personal dari para imam, religius, serta keterlibatan kaum muda sendiri menjadi unsur penting dalam menumbuhkan harapan dan kepercayaan kepada Kristus.
Di akhir wawancara, Bapak Uskup memberikan pesan bagi kaum muda Katolik di Indonesia. Ia mengajak mereka untuk setia berdoa dan memiliki kepekaan untuk membantu sesama, terutama mereka yang kurang mendapatkan perhatian.
Bapak Uskup menuturkan kisah dari Thailand tentang sebuah tim sepak bola anak-anak Muslim dari keluarga sederhana yang berhasil berprestasi karena ada satu orang pelatih yang peduli dan mendampingi mereka dengan penuh perhatian. Dari kisah itu, ia menegaskan bahwa setiap orang dapat membawa perubahan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih, satu orang demi satu orang, sesuai ajaran Yesus untuk memperhatikan mereka yang miskin dan tersisihkan.
Kunjungan Delegasi Gereja Katolik Thailand ini memberi pengalaman berharga bagi civitas akademika STPKat. Selain memperkaya wawasan tentang kehidupan Gereja di negara lain, kegiatan ini juga memperteguh rasa persaudaraan lintas budaya dan memperdalam semangat pelayanan mahasiswa sebagai calon pelayan Gereja. Pertemuan, dialog, dan wawancara yang berlangsung menjadi momen yang menginspirasi serta meneguhkan iman seluruh peserta yang terlibat.
Penulis: Ignatius Nugroho dan Valentino Endiyanto (UKM Jurnalistik STPKat)


